Publikasi

Sulap Irigasi Jorok Jadi 'Kampung Ikan' Cerdas: Kisah Sukses Buruh Panggul di Banyuwangi

06 November 2025 | 135 views | M. RIZQON AL MUSAFIRI
Sulap Irigasi Jorok Jadi 'Kampung Ikan' Cerdas: Kisah Sukses Buruh Panggul di Banyuwangi

Jika Anda melintas di Dusun Krajan, Desa Jajag, Banyuwangi, Anda mungkin akan takjub melihat saluran irigasi yang bersih dan penuh ikan warna-warni. Padahal, beberapa tahun lalu, pemandangan di sana sungguh berbeda: saluran air itu kotor, kumuh, angker, dan jadi tempat pembuangan sampah favorit, terutama pampers.

Transformasi luar biasa ini adalah hasil kerja keras POKDAKAN (Kelompok Pembudidaya Ikan) "Banyu Bening", yang ironisnya, mayoritas anggotanya adalah para buruh panggul pasar.

Berawal dari Keprihatinan

Semua dimulai dari keprihatinan seorang tokoh masyarakat, Bapak Muyadi, yang mengajak teman-temannya sesama buruh panggul untuk "melakukan sesuatu" terhadap saluran irigasi kotor di depan rumah mereka. Pada Februari 2018, mereka membentuk POKDAKAN "Banyu Bening".

Mereka membersihkan saluran irigasi dan menyulapnya menjadi kolam ikan air tawar sepanjang ratusan meter, diisi dengan ribuan ikan Koi, Tombro, dan Nila. Langkah ini bahkan diperkuat oleh Peraturan Desa (Perdes) yang melarang penyetruman atau penggunaan obat-obatan di irigasi tersebut.

Inisiatif ini langsung direspons baik oleh masyarakat. Sore hari, lokasi itu ramai dikunjungi anak-anak.

Potensi Besar, Masalah Internal

Melihat antusiasme warga, potensi "Kampung Ikan Banyu Bening" mulai terlihat.

  1. Potensi Ekonomi: Warga bisa menambah penghasilan dengan menjual pakan ikan kepada pengunjung atau menjual ikan bakar saat panen.

  2. Potensi Wisata Literasi: Pemkab Banyuwangi menyumbangkan buku-buku bacaan, menjadikannya tempat anak-anak bermain sambil membaca. Para pelajar TK hingga SMA pun mulai berdatangan untuk belajar tentang budidaya ikan.

Sayangnya, di tengah potensi besar itu, muncul masalah internal. Sebuah studi pengabdian masyarakat oleh Nurul Inayah, M. Rizkon Al Musafiri, dkk., mengidentifikasi beberapa kendala:

  • Terjadi konflik manajemen dan kepengurusan di dalam POKDAKAN.

  • Anggota yang rata-rata buruh panggul sering meninggalkan lokasi untuk bekerja, sehingga kampung ikan terlihat terbengkalai.

  • Buku-buku sumbangan tidak terawat dan banyak yang hilang karena kurang pengawasan.

  • Pengurus POKDAKAN minim kemampuan untuk menjadi pemandu wisata literasi yang baik.

Solusi: Pendekatan ABCD dan Penguatan Literasi

Tim pengabdian ini turun tangan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yang fokus pada kekuatan (aset) komunitas, bukan kelemahannya.

Aset mereka jelas: saluran irigasi, semangat komunitas buruh panggul, dan perpustakaan mini yang sudah ada. Yang dibutuhkan adalah penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas.

Program inti yang dilakukan adalah "Sekolah Pengabdian dan Pelatihan Pengelolaan Literasi". Tim menggandeng LSM Rumah Literasi Banyuwangi sebagai pemateri.

Apa yang dipelajari para buruh panggul ini?

  1. Manajemen Literasi: Mereka belajar cara mengelola perpustakaan mini agar buku-buku terawat dan tidak hilang.

  2. Keterampilan Pemandu Wisata: Mereka dilatih cara menjadi pemandu wisata literasi yang andal. Mereka belajar bagaimana menjelaskan proses budidaya ikan air tawar secara terperinci kepada pengunjung, terutama para pelajar.

  3. Pengembangan Diri: Mereka belajar pentingnya membaca untuk meningkatkan nilai kepribadian dan budi pekerti.

Hasil Nyata: Dari Buruh Panggul Menjadi Pemandu Wisata

Pelatihan ini berhasil. Para pengurus POKDAKAN kini memiliki kapasitas ganda: sebagai pembudidaya ikan sekaligus pemandu wisata literasi.

Dampaknya langsung terasa. Jumlah pengunjung (termasuk rombongan pelajar) yang ingin belajar budidaya ikan meningkat. Anak-anak yang datang kini tidak hanya memberi makan ikan, tapi juga bisa membaca buku-buku yang disediakan.

Kisah POKDAKAN "Banyu Bening" adalah cerminan sukses pemberdayaan komunitas. Mereka berhasil mengubah masalah lingkungan (irigasi kotor) menjadi solusi ekonomi dan edukasi (wisata literasi). Ini membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, komunitas yang sering dianggap "marginal" seperti buruh panggul pun mampu menciptakan perubahan besar.