Masalah klasik di banyak sekolah: nilai siswa anjlok. Di SMA NU Genteng Banyuwangi, misalnya, hasil pengamatan menemukan 35 siswa kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 nilainya masih di bawah KKM (Nilai Ketuntasan Minimal) 75.
Setelah ditelusuri, salah satu biang keroknya adalah bahan ajar. Guru masih terpaku pada Lembar Kerja Siswa (LKS) yang materinya dangkal. Buku teks paket yang ada jumlahnya terbatas di perpustakaan , dan kalaupun ada, siswa cenderung malas membacanya karena... ya, terlalu tebal!.
Menghadapi masalah ini, M. Rizqon Al Musafiri melakukan sebuah penelitian eksperimen dengan solusi yang sederhana tapi jitu: menggunakan suplemen bahan ajar berbentuk leaflet.
Kenapa Leaflet?
Leaflet (selebaran) dipilih karena bentuknya yang simpel, tidak mengintimidasi (tidak tebal), didesain menarik, dilengkapi ilustrasi, dan bahasanya dibuat sederhana, singkat, serta tepat sasaran. Materi yang diangkat pun dibuat relevan dengan siswa: "Interaksi Budaya Lokal Terhadap Budaya Nasional", dengan fokus pada budaya Osing, kearifan lokal Banyuwangi.
Penelitian ini dilakukan pada Januari 2020 , dengan membagi dua kelas: XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen (yang mendapat leaflet) dan XI IPS 1 sebagai kelas kontrol (yang belajar seperti biasa).
Hasilnya: Jauh Melampaui KKM
Perbedaan hasil belajar antara sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) penggunaan leaflet di kelas eksperimen sangat signifikan.
Grafik 1 dalam penelitian menunjukkan:
Rata-rata nilai Pretest (sebelum pakai leaflet): 63,6
Rata-rata nilai Posttest (setelah pakai leaflet): 84,6
Nilai rata-rata siswa meroket tajam, melampaui KKM sekolah (75). Peningkatan ini juga dikonfirmasi oleh nilai N-Gain (ukuran peningkatan) yang mencapai 83,2.
Tak Cuma Nilai, Aktivitas Kelas Juga 'Gaspol'
Efek domino dari leaflet ini tidak hanya pada nilai. Bahan ajar yang ringkas dan menarik ternyata berhasil mengubah atmosfer kelas. Siswa yang tadinya pasif menjadi jauh lebih aktif.
Grafik 3 dalam studi mencatat peningkatan aktivitas siswa di kelas eksperimen:
81,6% siswa berani mempresentasikan hasil diskusi.
78,6% siswa aktif dalam kerja kelompok.
76,4% siswa aktif bertanya.
72,9% siswa berani mengemukakan pendapat.
Bahan ajar yang "menggugah selera" terbukti memotivasi siswa. Mereka jadi lebih mudah bertukar informasi dan berpartisipasi dalam diskusi kelompok.
Mengupas Kemampuan Berpikir Siswa
Penelitian ini juga membedah peningkatan kemampuan kognitif siswa berdasarkan levelnya (C1, C2, C4).
Analisis (C4): Peningkatan tertinggi terjadi di aspek analisis, dengan N-Gain 83,2. Ini menunjukkan leaflet membantu siswa menguraikan masalah dan memahami materi secara mendalam.
Pengetahuan (C1): N-Gain mencapai 73.
Pemahaman (C2): N-Gain mencapai 71,2.
Siswa lebih mudah paham (C2) karena materi di leaflet disajikan secara terstruktur dan didukung gambar yang menarik.
Respon Siswa: Sangat Positif
Lalu, apa kata siswa? Angket tanggapan siswa (Grafik 4) menunjukkan :
95% siswa setuju leaflet mudah digunakan.
95% setuju ukuran font (huruf) terbaca dengan baik.
90% setuju bahasanya sederhana dan mudah dipahami.
85% setuju gambar di leaflet menarik.
Temuan ini memberikan pesan penting bagi para pendidik. Di era digital yang serba cepat, materi pembelajaran tidak harus tebal dan bertele-tele. Bahan ajar yang dirancang dengan baik, visual, ringkas, dan relevan dengan budaya siswa (seperti leaflet budaya Osing ini) terbukti jauh lebih efektif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar.