Pengabdian Masyarakat

Dari Sampah Pampers Jadi Program Keren: SEKARDADU, Cara Banyuwangi Ajari Anak SD 'Rawat' Sungai

28 October 2025 | 763 views | M. RIZQON AL MUSAFIRI
Dari Sampah Pampers Jadi Program Keren: SEKARDADU, Cara Banyuwangi Ajari Anak SD 'Rawat' Sungai

Coba jujur, apa yang Anda lihat di sungai dekat rumah? Apakah air jernih, atau pemandangan "klasik": sampah plastik, kasur bekas, dan (maaf) pampers?

Rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan sungai adalah masalah kronis di banyak daerah. Warga masih banyak yang membuang sampah, limbah rumah tangga , bahkan masih banyak yang buang hajat di sungai. Parahnya lagi, ada warga yang sudah punya jamban di rumah, tapi tetap memilih ke sungai karena alasan "lebih nyaman".

Menghadapi masalah mindset yang pelik ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meluncurkan program lintas sektor yang unik: SEKARDADU (Sekolah Rawat Aliran Sungai).

Sebuah laporan pengabdian masyarakat dari M. Rizqon Al Musafiri, Ahmad Faruk, dan Imam Khusnudin dari IAIDA Blokagung memberikan kita gambaran utuh tentang bagaimana program keren ini dijalankan di lapangan.

Apa Itu SEKARDADU?

Namanya saja sudah unik. SEKARDADU diambil dari nama putri Raja Blambangan pada abad ke-14, yaitu Dewi Sekardadu, anak dari Raja Menak Sembuyu.

Ini bukan program "bersih-bersih" biasa. Ini adalah gerakan edukasi yang melibatkan seluruh elemen pendidikan. Idenya adalah "adopsi sungai":

  • Siswa SD/MI "mengasuh" 200 meter aliran sungai di dekat sekolahnya.

  • Siswa SMP/MTs "mengasuh" 300 meter.

  • Siswa SMA/SMK/MA "mengasuh" 500 meter.

  • Perguruan Tinggi (seperti IAIDA) bertugas mendampingi dan memonitoring sekolah-sekolah ini.

5 Tahap Pendampingan di Lapangan

Tim peneliti ini melakukan pendampingan di SDN 1 Wringintelu, Kecamatan Bangorejo , yang lokasinya memang dekat dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bangorejo.

Proses pendampingan ini dibagi menjadi 5 tahap penting:

1. Tahap Promotif (Edukasi di Kelas) Semua dimulai dari kelas. Tim memberikan materi kepada siswa-siswa SD. Isinya dasar tapi penting: Apa itu sungai? Apa manfaatnya? Kenapa harus dijaga? Apa bahayanya kalau kotor?. Tujuannya agar siswa "paham" dulu.

2. Tahap Preventif (Pencegahan) Setelah paham, siswa diajak "mencegah". Ini adalah soal menanamkan "budaya malu membuang sampah di sungai". Lebih dari itu, siswa juga dibekali keberanian untuk mengingatkan orang lain (termasuk mungkin orang tua mereka di rumah) agar tidak membuang sampah ke sungai.

3. Tahap Kuratif (Aksi Bersih-bersih) Teori saja tidak cukup. Siswa diajak langsung "turun tangan". Mereka diajak membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar sungai , terutama sampah plastik. Sampah plastik ini adalah musuh utama karena sangat sulit terurai.

4. Tahap Rehabilitatif (Perawatan) Sungai yang sudah bersih harus dirawat. Area sekitar sungai yang gundul bisa menyebabkan erosi. Maka, tahap selanjutnya adalah rehabilitasi, seperti menanam pohon di daerah aliran sungai agar tetap asri dan kuat.

5. Tahap Monitoring dan Evaluasi (Jaga Komitmen) Ini adalah tahap krusial. Program ini tidak boleh jadi "proyek" sekali jadi. Tim dari perguruan tinggi bersama pihak sekolah harus terus memantau dan mengevaluasi. Apakah sungainya tetap bersih? Apakah kebiasaan membuang sampah kembali lagi?

Investasi Jangka Panjang

SEKARDADU adalah cara cerdas mengubah mindset. Mengubah kebiasaan orang dewasa yang apatis mungkin sulit, tapi mendidik anak-anak adalah investasi.

Dengan melibatkan siswa SD, program ini menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab sejak dini. Ini adalah gotong royong gaya baru untuk memastikan sungai di Banyuwangi (dan semoga di seluruh Indonesia) kembali menjadi sumber kehidupan, bukan tempat sampah raksasa.