Penelitian

Patah Tumbuh, Hilang Berganti: Memahami Cara Anak 'Broken Home' Bertahan di Pesantren

28 May 2025 | 134 views | M. RIZQON AL MUSAFIRI
Patah Tumbuh, Hilang Berganti: Memahami Cara Anak 'Broken Home' Bertahan di Pesantren

Keluarga adalah fondasi pertama. Namun, tidak semua anak tumbuh dalam skenario keluarga "ideal" yang utuh. Istilah broken home seringkali membawa stigma, padahal yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak yang mengalaminya berdamai dengan keadaan. Sebuah penelitian menyentuh oleh M. Rizqon Al Musafiri dan Meta Nur Kusuma Dewi mencoba menyelami dunia ini, secara spesifik melihat bagaimana seorang santri di Pondok Pesantren Darussalam Putri Utara menghadapi stres akibat perceraian orang tuanya.

Hasilnya? Sangat manusiawi dan penuh pelajaran.

Di Balik Tembok Pesantren: Beban yang Tak Terlihat

Studi kasus ini berfokus pada seorang santriwati berinisial N. Perceraian orang tuanya terjadi saat ia sudah berada di bangku perkuliahan di pesantren. Ini bukan sekadar perpisahan; ini adalah guncangan psikologis.

Penelitian ini menemukan bahwa sumber stres utamanya (disebut "stresor psikologis") bukanlah perceraian itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Penyebab stres N ada dua:

  1. Kekecewaan Mendalam: Rasa kecewa karena perpisahan orang tua yang tiba-tiba.

  2. Tekanan dari Ayah: Ayahnya melarang keras N untuk bertemu atau bahkan sekadar menelepon Ibunya.

Beban ini nyata. N menjadi tidak fokus belajar , sering sedih, dan bahkan sering sakit-sakitan ketika teringat masalah itu. Ia memilih memendamnya sendiri, berpikir kalau bercerita hanya akan menambah kesedihan.

Dua Sisi 'Coping Stress': Lari dari Masalah dan Lari Menuju Tuhan

Jadi, bagaimana N bertahan? Penelitian ini mengidentifikasi strategi yang digunakan N sebagai Emotion-Focused Coping, yaitu upaya untuk mengelola emosi yang muncul akibat stres. Menariknya, strategi ini punya dua wajah yang kontras:

1. Wajah Negatif: 'Escape Avoidance' (Pelarian)

Saat stres memuncak, N memilih "kabur" dari kenyataan. Ini adalah cara pertahanan diri yang umum. Wujudnya:

  • Malas belajar: Kegiatan yang biasanya jadi rutinitas, kini terasa berat.

  • Menghindari interaksi: Ia menarik diri dari teman-temannya.

  • Lebih banyak tidur: N memilih tidur dan mengabaikan segalanya, seolah-olah masalah akan hilang saat ia terlelap.

Mungkin terlihat "negatif" atau "malas", tapi ini adalah caranya untuk 'mati rasa' sejenak dari rasa sakit.

2. Wajah Positif: 'Positive Reappraisal' (Membingkai Ulang Masalah)

Ini adalah titik baliknya. Di tengah pelariannya, N juga mencari pegangan. Lingkungan pesantren memberinya sebuah jangkar yang kuat. Alih-alih terus tenggelam dalam kesedihan, N:

  • Memilih menyibukkan diri dalam hal religius.

  • Fokus menghafal Al-Qur'an.

  • Tujuannya: agar lebih dekat dengan Allah SWT.

Inilah yang disebut Positive Reappraisal atau memberi nilai positif pada penderitaan. Ia mengalihkan energinya dari "mengapa ini terjadi padaku?" menjadi "apa yang bisa kulakukan untuk merasa lebih baik?". Ia menemukan pelipur lara bukan pada manusia, tapi pada Sang Pencipta.

Pelajaran dari Kisah N

Studi ini membuka mata kita bahwa coping stress bukanlah proses yang lurus atau cantik. Ia bisa terlihat "berantakan" (seperti malas dan menghindar), namun di saat yang sama bisa menjadi sangat "mendalam" (seperti mendekatkan diri pada Tuhan).

Bagi anak korban broken home, yang mereka butuhkan bukanlah penghakiman atas cara mereka bertahan hidup, melainkan ruang yang aman untuk memproses emosi. Kisah N menunjukkan bahwa di tengah tekanan psikologis yang berat, spiritualitas bisa menjadi strategi coping yang luar biasa kuat, memberikan ketenangan yang tidak bisa ditawarkan oleh hal lain.