Dengar kata "Pondok Pesantren", apa yang pertama kali terlintas di benak Anda? Pasti soal mengaji, belajar kitab kuning, dan ibadah, kan? Tentu, itu adalah intinya.
Tapi, di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, ada sebuah cerita seru. Ini adalah kisah tentang bagaimana para santri, khususnya yang tergabung dalam Asosiasi TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an), tidak hanya dibekali ilmu agama, tapi juga "ilmu cari cuan" alias wirausaha.
Ini bukan sekadar program iseng-iseng. Ini adalah program pengabdian masyarakat yang serius dari para dosen (Nawal Ika Susanti dkk.) yang tujuannya jelas: membangun kemandirian ekonomi untuk Asosiasi TPQ di pesantren.
Bukan "Dikasih Ikan", Tapi "Diajari Memancing"
Tim pengabdi menggunakan metode yang keren bernama ABCD (Asset-Based Community Development).
Apa pula itu? Gampangnya begini:
Alih-alih datang dan bilang, "Kalian kurang ini, itu, " atau "Kalian butuh bantuan apa?", tim ini justru datang dengan pertanyaan, "Kalian sudah punya apa yang bisa dikembangkan?"
Ini adalah jurus yang mengubah cara pandang. Fokusnya bukan pada kekurangan, tapi pada "harta karun" atau aset yang sudah ada. Di Asosiasi TPQ Darussalam, aset terbesarnya adalah sumber daya manusia (para santri) yang solid dan jaringan yang kuat.
Setelah memetakan kekuatan itu, mereka memutuskan satu hal: Kita akan bikin produk!
Dari Ide Jadi Aksi: Lahirnya Produk Camilan dan Minuman Santri
Kenapa harus produk pangan (camilan) dan minuman? Karena ini adalah bisnis yang kebutuhannya ada setiap hari, pasarnya jelas (minimal di lingkungan pesantren sendiri), dan keterampilan membuatnya bisa dipelajari relatif cepat.
Program ini dibagi jadi beberapa tahap praktis:
1. Pengembangan Produk
Para santri tidak dilepas sendirian. Prosesnya adalah kolaborasi cerdas:
Kerja Sama Mitra: Sebagian produk dibuat dengan bekerja sama dengan mitra yang menyediakan bahan baku. Ini cara pintar untuk memastikan kualitas dan pasokan tetap terjaga.
Kreasi Santri: Sebagian produk lain adalah hasil pengembangan dan inovasi murni dari para santri sendiri. Di sinilah kreativitas mereka diuji.
2. Pelatihan "Paket Komplet" Jadi Pengusaha
Membuat produk yang enak itu baru setengah jalan. Tantangan sebenarnya adalah: Bagaimana cara menjualnya?
Di sinilah para santri digembleng. Mereka tidak hanya diajari cara produksi, tapi juga dapat pelatihan wirausaha lengkap:
Ilmu Marketing: Bagaimana cara memasarkan produk? Siapa targetnya? Apakah mau dijual di kantin, dititip ke koperasi, atau dijual online?
Ilmu Keuangan (Anti Pusing): Ini yang paling penting! Mereka diajari cara menyusun laporan keuangan yang simpel. Tujuannya agar uang hasil penjualan tidak "gaib", tapi jelas hitungannya, mana modal dan mana untung.
Hasilnya? 80% Sukses, Meski Ada Tantangan
Program ini berjalan sukses dengan capaian 80%. Bukan angka yang main-main.
Hasil nyatanya adalah, kini Asosiasi TPQ punya produk camilan dan minuman karya mereka sendiri. Tapi, hasil yang jauh lebih mahal dari itu adalah "ilmu" yang menempel di kepala para santri.
Mereka jadi paham cara kerja bisnis dari hulu ke hilir. Dari sekadar konsumen, mereka naik kelas jadi produsen.
Tentu, perjalanannya tidak mulus 100%. Tantangan terbesar, seperti yang bisa diduga dari kehidupan di pesantren, adalah waktu. Jadwal santri yang super padat—antara mengaji, sekolah, dan kegiatan asrama—membuat manajemen waktu jadi tantangan tersendiri.
Meski begitu, capaian 80% ini membuktikan satu hal: di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Kisah dari Darussalam Blokagung ini adalah inspirasi. Ini bukti bahwa ilmu agama dan ilmu wirausaha bisa berjalan beriringan. Ini adalah cara mencetak santri yang tidak hanya sholeh secara spiritual, tapi juga mandiri secara ekonomi.