Bagi siswa dan guru di Madrasah (MI, MTs, MA), ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) adalah acara tahunan yang bergengsi sekaligus bikin pusing. Sejak 2018, KSM bukan lagi soal sains murni. Kompetisi ini mulai memadukan sains dengan nilai-nilai Islami.
Masalahnya, tantangan KSM bukan cuma di situ. Soal-soalnya sering disajikan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Bahasa Arab.
Di sinilah letak masalahnya. Kalau soal matematika sudah rumit, bayangkan jika soal itu disajikan dalam Bahasa Arab.
Berdasarkan observasi di lapangan, khususnya di Banyuwangi, banyak guru matematika mengaku angkat tangan. Mereka kesulitan membimbing siswa untuk memecahkan soal KSM yang berbahasa Arab.
Akibatnya? Kesiapan siswa jadi minimal. Banyak sekolah jadi kurang antusias mengirimkan siswanya. Jumlah peserta di Banyuwangi pun tergolong masih sedikit. Padahal, buku panduan yang ada kebanyakan hanya fokus pada bilingual Indonesia-Inggris, melupakan kebutuhan akan Bahasa Arab.
Melihat masalah nyata ini, tim peneliti (Nawal Ika Susanti dan Anyes Lathifatul Insaniyah) dari Universitas KH. Mukhtar Syafa'at Blokagung Banyuwangi mengambil inisiatif. Mereka memutuskan untuk merancang solusi: Modul Matematika Bilingual (Indonesia-Arab) yang khusus dibuat untuk persiapan KSM.
Proses "Masak" Modul: 4 Tahap R&D
Membuat modul yang efektif tentu bukan proyek semalam jadi. Para peneliti menggunakan metode R&D (Research and Development) model Borg and Gall, yang disederhanakan menjadi 4 tahap praktis.
Tahap 1: Pendahuluan (Investigasi Lapangan)
Peneliti turun langsung ke beberapa MTs di Banyuwangi. Mereka melakukan wawancara dan observasi. Hasilnya? Curhatan para guru terkonfirmasi: "Kami sangat kekurangan bahan ajar KSM matematika yang terintegrasi nilai Islami, apalagi yang pakai Bahasa Arab!".
Tahap 2: Pengembangan (Mulai Merancang)
Setelah tahu masalahnya, tim mulai "memasak" modul. Mereka mengumpulkan bahan materi, soal-soal, dan silabus KSM dari tahun 2018 hingga 2022. Modul ini disusun menjadi 4 bab utama sesuai silabus KSM: Bilangan, Aljabar, Geometri, dan Kombinatorika16.
Uniknya, modul ini dirancang dengan proporsi 40% contoh soal berbahasa Arab (lengkap dengan terjemahan) dan 60% berbahasa Indonesia, untuk membiasakan siswa.
Tahap 3: Uji Coba (Apakah Modul Ini 'Enak'?)
Ini adalah tahap terpenting. Modul yang sudah jadi diuji kelayakannya:
Validasi Ahli: Modul ini "disidang" oleh berbagai ahli, mulai dari ahli materi (dosen dan guru matematika), ahli media (desain), hingga praktisi. Mereka mengecek segalanya: kelayakan isi, bahasa, penyajian, desain sampul, dan kemudahan untuk belajar mandiri. Hasilnya? Semua ahli kompak memberi stempel "Layak Digunakan".
Uji Coba Guru: Modul ini diberikan kepada 13 guru mata pelajaran matematika. Respons mereka sangat positif. Dengan indeks 3,71 (kategori "Sangat Menarik"), para guru merasa modul ini sangat memudahkan bimbingan, materinya mudah dipahami, dan terjemahan Arabnya sangat membantu.
Uji Coba Siswa: Inilah juri utamanya. Modul ini diuji secara bertahap ke 159 siswa (uji perorangan, kelompok kecil, dan kelompok besar) di enam madrasah. Hasilnya? Siswa menyukainya! Uji kelompok besar memberi nilai indeks 3,74 (kategori "Sangat Menarik"). Para siswa merasa tampilan fisiknya menarik dan materi serta contoh soalnya sistematis dan mudah dipahami.
Tahap 4: Diseminasi (Dibagikan!)
Setelah terbukti layak dan menarik, modul ini akhirnya disebarluaskan ke madrasah-madrasah yang menjadi lokasi penelitian. Modul ini hadir dalam bentuk buku cetak (sudah ber-ISBN) dan juga ebook agar mudah diakses kapan saja. Bahkan, modul ini dikirimkan ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk menambah koleksi.
Kesimpulan
Penelitian ini berhasil menciptakan solusi nyata untuk masalah yang dihadapi guru dan siswa madrasah. Modul Matematika Bilingual (Indonesia-Arab) ini terbukti valid, praktis, dan sangat disukai oleh penggunanya. Ini adalah bukti bahwa tantangan memadukan matematika, nilai Islami, dan Bahasa Arab dalam ajang KSM bisa diatasi dengan bahan ajar yang tepat.