Pandemi Covid-19 kemarin memang memukul telak ekonomi banyak keluarga. Ibu-ibu rumah tangga pusing mengatur uang belanja, anak-anak muda (Karang Taruna) juga bingung mencari peluang. Situasi ini juga dirasakan betul oleh warga di Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Tapi, di tengah kebingungan itu, ada sebuah program dari pemerintah desa yang sudah berjalan: gerakan menanam bunga. Warga di sana, khususnya di Dusun Krajan, memang hobi membuat pekarangan rumah jadi cantik dan asri.
Di sinilah sekelompok akademisi (Nawal Ika Susanti, Siti Nur Afifatul Hikmah, dan Anyes Lathifatul Insaniyah) melihat sebuah "harta karun" yang tersembunyi.
Bagaimana kalau hobi yang sudah ada ini tidak cuma bikin cantik mata, tapi juga bikin "tebal" dompet?
Lahirnya Ide Cemerlang: "Flower Bank" (Bank Bunga)
Ini bukan bank tempat Anda meminjam uang. Ini jauh lebih keren.
"Bank Bunga" adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mengubah hobi menanam bunga menjadi sumber penghasilan dan tabungan. Konsepnya sederhana tapi jenius:
Warga Menanam: Ibu-ibu rumah tangga dan Karang Taruna yang sudah hobi menanam bunga, kini melakukannya dengan lebih serius.
Bunga "Ditabung": Bunga-bunga yang sudah mekar dan siap jual tidak dijual sembarangan. Mereka "menyetorkannya" ke "Bank Bunga" yang dikelola bersama.
Dapat Uang (Tabungan): Bunga yang disetor tadi akan dijual oleh pengurus bank. Uang hasil penjualannya tidak langsung dikantongi, tapi dicatat rapi dalam buku tabungan milik si penanam bunga.
Hasilnya? Hobi yang tadinya cuma buat senang-senang, sekarang jadi "mesin ATM" mini di pekarangan rumah. Warga jadi punya tabungan yang bisa diambil sewaktu-waktu dari hasil keringat mereka sendiri.
Bukan Proyek "Instan", Tapi "Pendampingan"
Tim akademisi ini tidak datang, memberi uang, lalu pergi. Mereka menggunakan metode yang disebut Participatory Action Research (PAR).
Apa itu? Gampangnya, mereka bekerja bersama warga, bukan menggurui warga. Warga diajak jadi pelaku utama, bukan cuma penonton.
Prosesnya dibagi jadi tiga tahap penting:
1. Sosialisasi (Biar Satu Frekuensi)
Langkah pertama adalah kumpul bareng. Tim menjelaskan ide "Bank Bunga" ini kepada ibu-ibu dan anggota Karang Taruna. Tujuannya agar semua paham, "Oh, maksudnya begini, toh!" dan "Wah, kayaknya seru, nih!". Antusiasme warga adalah modal utama.
2. Pelatihan Administrasi (Ini Bagian Penting!)
Ini adalah inti dari program pendampingan. Punya banyak bunga tapi tidak ada yang mencatat? Bisa-bisa malah jadi sumber masalah.
Di sinilah warga, terutama pengurus yang ditunjuk dari Karang Taruna dan perwakilan ibu-ibu, "disekolahkan" kilat. Mereka dilatih cara:
Membuat Pembukuan Sederhana: Bagaimana mencatat setoran bunga?
Mengelola Buku Tabungan: Bagaimana mengisi buku tabungan setiap anggota dengan rapi dan jujur?
Administrasi Keuangan: Bagaimana menghitung uang masuk, uang keluar, dan sisa saldo?
Ini adalah bekal skill baru yang sangat berharga. Warga tidak hanya jadi penanam, tapi juga jadi "bankir" untuk komunitas mereka sendiri.
3. Praktik Langsung
Setelah dapat teori, langsung praktik! Warga mulai menyetor, pengurus mulai mencatat. Dengan buku pedoman pembukuan tabungan, semua jadi teratur.
Apa Hasilnya? Lebih dari Sekadar Uang
Dampak dari program "Bank Bunga" ini ternyata luar biasa, dan bukan cuma soal ekonomi:
Peningkatan Ekonomi: Jelas, ini tujuan utamanya. Ibu-ibu rumah tangga jadi punya sumber penghasilan tambahan untuk membantu ekonomi keluarga pasca-pandemi.
Pemberdayaan Warga: Ibu-ibu dan Karang Taruna yang tadinya mungkin "bingung mau ngapain", kini jadi sibuk, produktif, dan punya keahlian baru di bidang administrasi dan keuangan. Mereka jadi berdaya!
Antusiasme Komunitas: Program ini sukses memicu semangat gotong royong. Warga jadi makin kompak karena punya tujuan bersama.
Kisah dari Gentengwetan ini adalah bukti bahwa solusi ekonomi tidak harus selalu muluk-muluk. Kadang, jawabannya sudah ada di pekarangan kita sendiri—tinggal bagaimana kita melihat potensi dan mau belajar mengelolanya.