Penelitian

Adu Sehat Bank Syariah vs. Konvensional: Siapa Jawaranya? Studi Ini Membedahnya Pakai "Rapor" RGEC

04 November 2025 | 96 views | NAWAL IKA SUSANTI
Adu Sehat Bank Syariah vs. Konvensional: Siapa Jawaranya? Studi Ini Membedahnya Pakai "Rapor" RGEC

Kalau mau nabung atau pinjam uang, Anda tim mana: Bank Syariah atau Bank Konvensional?

Di Indonesia, dua "raksasa" perbankan ini hidup berdampingan. Bank Konvensional sudah jadi "kakak tua" yang kita kenal lama. Bank Syariah hadir sebagai "adik" yang menawarkan sistem bebas bunga (riba) dan makin diminati.

Tapi, di luar preferensi pribadi soal halal atau tidak, pernahkah Anda bertanya: "Sebenarnya, mana yang lebih 'sehat'?"

Ini bukan soal mana yang gedungnya lebih megah atau iklannya lebih sering muncul. Ini soal kesehatan finansial. Apakah mereka sama-sama kuat? Apakah ada yang lebih jago cari untung? Atau ada yang lebih berisiko?

Sekelompok peneliti (Ribut Suprapto, Nawal Ika Susanti, Mamlukhah, dan Irma Sa'adah) melakukan studi mendalam untuk "mengadu" kesehatan kedua jenis bank ini. Dan hasilnya... sangat menarik!

Metode "Medical Check-Up" Bank: RGEC

Untuk tahu bank itu sehat atau tidak, kita tidak bisa asal lihat. Bank Indonesia (BI) punya standar "medical check-up" resmi yang disebut RGEC.

Anggap saja RGEC ini adalah rapor kesehatan bank. Apa saja isinya?

  1. R (Risk Profile/Profil Risiko): Ini melihat seberapa berani bank mengambil risiko dan seberapa jago mereka mengelolanya. Dua hal utama yang dilihat di sini:

    • Kredit Macet (NPF/NPL): Berapa banyak pinjaman yang "nyangkut" alias tidak terbayar?

    • Likuiditas (FDR/LDR): Apakah uang yang dipinjamkan ke nasabah seimbang dengan uang simpanan yang ada? Jangan sampai "besar pasak daripada tiang".

  2. G (Good Corporate Governance/Tata Kelola): Ini soal "jeroan" bank. Apakah bank dikelola dengan jujur, transparan, dan profesional?

  3. E (Earnings/Rentabilitas): Ini soal "cuan". Seberapa jago bank ini menghasilkan laba dari aset yang mereka miliki? Biasanya diukur pakai ROA (Return On Assets).

  4. C (Capital/Permodalan): Ini adalah "dana cadangan" atau modal bank. Seberapa tebal "bantal pengaman" mereka jika terjadi krisis? Diukur pakai CAR (Capital Adequacy Ratio).

"Pasien" yang Diperiksa

Penelitian ini tidak main-main. Mereka mengambil data laporan keuangan selama 5 tahun (2018-2022) dari bank-bank besar.

  • Tim Bank Syariah (BUS): Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Muamalat, dan BTN Syariah.

  • Tim Bank Konvensional (BUK): Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan BTN.

Data dari keenam bank ini kemudian diadu menggunakan statistik (uji beda) untuk melihat: Apakah perbedaan di antara mereka cuma kebetulan, atau memang nyata (signifikan)?

Hasil "Lab": Apa Kata Data?

Setelah semua data diolah, inilah temuan utamanya. Siap-siap, ada yang bikin kaget!

1. Urusan "Cuan" (Profitabilitas/ROA): Beda Jauh!

Ini adalah temuan paling mencolok. Ternyata, ada perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan Bank Konvensional dan Bank Syariah dalam menghasilkan laba.

  • Bank Konvensional (BRI, Mandiri, BTN): Punya rata-rata ROA 2,62%.

  • Bank Syariah (BSI, Muamalat, BTN Syariah): Punya rata-rata ROA 1,14%.

Artinya apa? Dalam studi ini, bank konvensional terbukti jauh lebih efisien dan jago dalam mengubah aset mereka menjadi keuntungan.

2. Urusan "Kredit Macet" (NPF vs NPL): Juga Beda Signifikan!

Di sini, kita juga menemukan perbedaan yang nyata.

  • Bank Konvensional (NPL): Rata-rata kredit macetnya 2,61%.

  • Bank Syariah (NPF): Rata-rata kredit macetnya 3,44%.

Artinya apa? Bank Syariah (dalam sampel ini) tercatat punya rasio pembiayaan bermasalah yang sedikit lebih tinggi. Bank konvensional terlihat lebih "sehat" dalam menjaga kualitas pinjaman mereka.

3. Urusan Modal, Likuiditas, dan Tata Kelola: Ternyata 11-12!

Nah, di sinilah menariknya. Meskipun beda jauh di urusan profit dan kredit macet, untuk tiga aspek lainnya, kedua jenis bank ini ternyata TIDAK BERBEDA SIGNIFIKAN.

  • Permodalan (CAR): Keduanya sama-sama kuat. Cadangan modalnya sama-sama tebal dan sehat.

  • Tata Kelola (GCG): Keduanya sama-sama dianggap sudah dikelola dengan baik dan transparan.

  • Likuiditas (FDR/LDR): Keduanya sama-sama seimbang dalam mengelola dana simpanan dan pinjaman.

Kesimpulan: Jadi, Siapa yang Lebih Sehat?

Penelitian ini memberi kita gambaran yang jujur.

Jika kita bicara soal kemampuan mencetak laba (profit) dan mengelola kredit macet, data menunjukkan bank konvensional (dalam studi ini) masih unggul.

Namun, jika kita bicara soal keamanan modal, keseimbangan likuiditas, dan tata kelola perusahaan, bank syariah dan konvensional ternyata sama-sama kuat dan sehat.

Jadi, tidak ada jawaban "hitam-putih". Keduanya punya profil kesehatan yang berbeda. Studi ini membuktikan bahwa "kesehatan" bank itu multi-dimensi, dan kini kita punya data yang jelas untuk melihatnya, bukan sekadar asumsi.